Berani Move On, Menuju Esok yang Lebih Baik

ImageSemangat pagi, Semangat berbenah diri!

Pas lagi browsing-browsing, eh nemu artikel bagus, must read dah! Tapi bahasa Inggris. Jadi nekad translate deh, sehari semalam akhirnya jadi juga. Yeeeii 🙂 !! Jadi niatnya ini tadi cuma translate aja, tapi kok bahasanya terlalu formal, jadi aku ambil intinya aja trus dikembangin sendiri. Ini sumbernya:  http://muslimfootsteps.com/?q=closing-the-chapter . Apa sih isinya? Yuk cekidott…

PENGANTAR

Tulisan ini didedikasikan spesial buat kalian para perempuan (baik muslim maupun nonmuslim) yang hatinya pernah disakiti oleh para lelaki, yang sedang dirindung pilu, galau, dan khususnya buat yang lagi nggak bisa move on dari “pesakitan” masa lalu. Mohon maaf kalau di tulisan ini nantinya agak berpihak ke salah satu agama, Islam (because i am a muslim, of course), tapi sejatinya bisa kok dipraktekkan untuk yang non-Islam juga, disesuaikan saja dengan keyakinannya. #NoOffense #NoSARA

Yap, Move On. Mendengarnya saja sudah terbayang sulitnya move on. Memang benar sih, move on itu susah, tapi bukan berarti nggak mungkin kan?

Okay, mungkin sebagian besar yang baca tulisan ini adalah perempuan yang pernah punya hubungan yang nggak berhasil (Ngaku deh 😀). Mungkin saja karena salah paham, atau pertengkaran, dan mungkin ketidakcocokan dengan seseorang. Dia-Yang-Namanya-Tak-Boleh-Disebut telah berhasil menyakiti kalian, menyia-nyiakan semua kepercayaan dan cinta yang menurut kalian tulus (padahal mungkin tulus kalian itu suatu kebodohan). Dia menyebut kalian dengan sebutan kebun binatang atau berbagai profesi buruk lainnya, nggak peduli kalianlah yang selama ini sayang sama dia. Lalu kalian berpisah deh, lost-contact, atau masih kontakan tapi sering terganggu dan tersakiti dengan apa yang telah terjadi.

Kalian tahu bahwa kalian HARUS move on, tapi tetap saja rasanya masih gimanaa gitu, buruk, dan nyesek itu pedih jendral!

Kalian jadi takut mengunjungi tempat-tempat kenangan dulu, karena kalian takut itu akan membangkitkan memori dan kenangan-kenangan manis bersama “si dia” di tempat itu. Kalian juga menghindari orang-orang tertentu yang akan mengingatkan kalian pada “si dia”. (Okay, ini gue banget 😐 ). Bahkan saat kalian browsing internet, buka Facebook, Twitter, dan sosial media lainnya, buat stalking misalnya, rasanya itu seperti berjalan di ranjau-ranjau kenangan, dipenuhi emosi, dan nyesek lagi deh. Kejadiannya memang sudah lama, tapi tetap saja masih nggak bisa menutup lembaran lama.

PENYIKSA UTAMA KITA

Meskipun kita yang disakiti, tapi kebanyakan dari penyiksa utama kita berasal dari diri kita sendiri loh. Lah, kok bisa? Ya karena kita sendiri yang terus-terusan membiarkan pikiran kita untuk menyuburkan memori tentang berbagai kejadian yang menyakitkan di masa lalu. Kita selalu mengingat dan mendendam karena ketidakadilan yang pernah dilakukan oleh si dia ke diri kita. Sekali lagi, kita mengorbankan diri sendiri untuk disakiti.

Mungkin banyak yang nggak sadar kalau telah menyakiti diri sendiri, tapi memang faktanya begitu. Ketika kita mereplay semua kejadian-kejadian yang menyakitkan itu, entah itu dengan curhat, mikir, atau nulis, tanpa sadar kita sudah membuka kembali luka lama. Bukannya malah menyembuhkan, eh ini jadinya malah membuat luka gores yang makin banyak. Setiap ingatan lagi-lagi akan menyakiti kita. Seperti luka fisik, luka emosi juga bisa beracun dan terinfeksi kalau nggak segera diobati.

Nggak ada yang diuntungkan disini. Si dia juga nggak akan merasakan penderitaan dan “rasa nyesek” kalian, bahkan biasanya sih lupa sama apa yang telah dia perbuat, atau yang paling parah malah nggak sadar kalau dulu dia telah menyakiti kalian. (Ini nyata. Parah abis.) Tapi, bagaimanapun juga, nggak bisa kalian menyalahkan si dia kalau tiga tahun lagi kalian masih menangisi pertengkaran hebat, debat argumen sama dia, atau kejadian pas dia meninggalkan kalian. Nggak bisa. Kan yang salah kalian sendiri. (Hmmmm iya juga, ya.)

waiting

Well, kita mungkin pernah disakiti, dikhianati, atau dibohongi. Yang jelas hati kita jadi sakit. Yaa, itulah yang namanya hidup. Manusia itu nggak ada yang sempurna bro n sis, dan kita hidup di dunia ini saling terikat untuk saling menyakiti satu sama lain. Di Al-Qur’an telah dijelaskan berulang-ulang kalau kita, manusia, diciptakan sebagai cobaan satu sama lain. Tapi, pada kenyataannya, sakit yang diakibatkan oleh orang lain itu jauh lebih kecil presentasenya dibandingkan rasa sakit yang disebabkan oleh diri kita sendiri. Maksudnya, kita menyakiti diri sendiri dengan terus mengingat dan mengulang-ulang di pikiran kita tentang setiap detail kejahatan di masa lalu, seperti film yang dimainkan terus-menerus. Dan akhirnya, nangisin hal-hal yang lebih baik dilupakan saja. Iya kan?

Perilaku kayak gini nih yang harus diwaspadai karena sama sekali NGGAK SEHAT buat diri kita. Yang lagi ngetren sekarang, adalah nulis status tentang apa yang mereka rasakan, kegalauan, kegundahan, bahkan perselingkuhan mereka semuanya dibeberkan di sosial media. Oh.. My God. Lucunya, mereka berani begitu karena katanya itu adalah wujud dari kebebasan berekspresi!! HAHAHA, kebebasan apa, Neng? Trus tujuannya ngapain, coba? Orang-orang yang melihat status-statusmu nggak bakal bisa nolong kamu keluar dari jurang kesedihanmu. Mereka hanya bisa menyaksikan dan menaruh kasihan padamu. Kasihan bukan karena simpati pada ketidakadilan yang terjadi, tapi kasihan karena melihat kamu terus-terusan mengubur dirimu sendiri dengan berbagai kesedihanmu. Nyadar nggak sih? Jadi stop deh mengumbar kesedihan-kesedihanmu di sosial media.

Banyak juga yang suka update status bijak biar dikira strong, biar orang-orang percaya kalau kamu sudah move on. Tahu nggak sih? Orang yang benar-benar sudah move on itu nggak bakal mengingat apalagi mengungkit-ungkit masa lalunya. Jadi kalau ada yang bilang “Aku sudah move on loh”, nggak lupa belakangnya dikasih smiley “:)”, itu tandanya dia belum move on! Paham?

Ada lagi yang mengaku sudah mengubur dalam-dalam masa lalunya, tapi pada kenyataannya mereka menggali kembali kuburan kenangan itu dengan tangannya sendiri. Lebih parah lagi, ada yang mengganggap dirinya sok benar, dan yang salah itu cuma “si dia”. Errrr.. this is too much. 😐

(Wah, maaf ya terlalu panjang, tapi semoga kalian sadar dan terbuka pikirannya setelah ini.)

Nah, hasil dari “mengingat kenangan” adalah kalian tanpa sadar telah menolak kesempatan kedua untuk bahagia, kalian menutup semua pintu menuju kebahagiaan karena kalian terperangkap pada kebahagiaan masa lalu. Artinya, kalian menghukum diri sendiri. Dan orang-orang baru yang datang dengan tangan terbuka, dan akan membawa kita pada kebahagiaan yang lebih sejati,  ditolak mentah-mentah dengan dalih,”Aku pernah disakiti, aku tidak akan menikah lagi”, “Dia telah mengkhianatiku, aku tidak akan percaya lagi dengan orang lain”, dan variasi penolakan lainnya dengan tema yang sama.

Pernah mendengar tentang “the power of repeating ideas”? Kata-kata yang kita ucapkan akan mempengaruhi perilaku kita. Jika kita memotivasi diri dengan ucapan “Semangat, Semangat!”, maka kita akan semangat beneran. Dalam dunia psikologi, konsep ini disebut self-fulfilling prophecy (pemenuhan harapan diri). Apa yang kita pikir, maka itu yang akan terjadi. Tapi coba pikirkan jika yang selalu diulang di dalam pikiran kita adalah kenangan-kenangan buruk di masa lalu? Hmmm diri kita juga akan menjadi buruk, pretty bad. Jadi, trauma yang muncul kemudian bukanlah disebabkan kejadian aslinya, tapi itu muncul karena pengulangan kejadian yang terjadi di pikiran kita. Jika diri kita dipenuhi oleh energi negatif, maka perilaku ke depan kita juga akan negatif, masa depan dan hubungan dengan orang lain jadi suram. Naudzubillah..

Jika kita terus-menerus membangkitkan “drama”, otomatis kita juga membangkitkan kesedihan dari kubur kenangan. Ini akan menimbulkan kelumpuhan emosional. Kemudian cepat atau lambat, hal-hal yang paling primer dalam kehidupan kita (aura, kecantikan, keuangan, dan kecerdasan) menjadi terbuang sia-sia HANYA karena kita jalan ditempat, tidak mau maju, terus mengenang dan meratapi masa lalu.

Ya, inilah pembunuh kebahagiaan kalian, saat kalian menghancurkan diri kalian dengan tangan kalian sendiri. Contoh nih, katakanlah ada seorang wanita yang kehilangan laki-laki yang sangat dicintainya. Ketika Allah mendatangkan seorang yang lebih baik dan lebih serius dari laki-laki yang pertama, wanita ini nggak bisa mencintai si laki-laki. Kenapa? Karena dia asyik mengenang kebahagiaanya di masa lalu, dia nggak mau fatamorgana itu terganti. Akhirnya wanita ini kehilangan masa depannya, tak peduli seberapa indahnya, jika saja ia mau melepas kenangannya. Ini bukan omong kosong loh, tapi hasil penelitian. Banyak orang yang kehilangan masa sekarang dan masa depannya, bukan karena kejadian yang menyakitkan, tapi karena pengulangan kejadian-kejadian itu di dalam pikirannya.

Inilah alasannya, kenapa hanya butuh satu pemicu saja untuk membuat hidup seseorang berantakan. Kita bisa ingat semua kenangan (baik dan buruk) hanya karena satu hal kecil, misalnya makanan, tempat, kata, atau bau parfum. Ini terjadi karena kita tak bisa melepaskan kenangan itu.

Jadi apa gunanya semua ini? Kenapa kita tega menyiksa diri sendiri?

life's chapter

Terus dimana fungsi keyakinan dan agama kita, keprasrahan kita pada Tuhan, jika kita terus-menerus hidup di dalam jebakan masa lalu?

TUJUAN KITA

Di dunia nyata, ada lembaga asuransi. Kita bisa menuntut asuransi untuk kerusakan mobil atau rumah. Tapi, jika ini menyangkut masalah hati, kemana lagi kita minta jaminan? Hati itu nggak ada sparepartnya, bro n sis. Jadi hati-hati dan harus pilih-pilih sebelum menambatkan hati kalian pada orang lain.

Jika kalian orang beriman, maka seharusnya kalian percaya pada hari pembalasan. Bahwa semua ketidakadilan yang kita dapatkan PASTI akan dibalas oleh Allah. Termasuk juga menyakiti perasaan orang lain, bisa jadi ini termasuk kasus pencurian hak untuk bahagia, dan masing-masing orang akan bertanggung jawab atas apa yang diperbuatnya di dunia.

Hayoo, yang pernah nyakitin anak orang, minta maaf gih, hihihi :p

Nah, jika kalian percaya hari pembalasan itu ada, maka seharusnya kalian mempercayakan dan memasrahkan masalah-masalah emosi kalian sama Allah. Biarkan Dia yang bertindak terhadap pelaku kriminal untuk hati kalian. Percaya kan Allah itu Maha Adil? Jadi mulai sekarang kalian nggak usah repot-repot memikirkan rencana-rencana balas dendam dan kehidupan si dia. Cukup percayakan semuanya pada Allah.  Orang-orang yang beroientasi ke masa depan, nggak punya waktu buat mikirin kejadian-kejadian yang bisa membuatnya down, dan dia nggak akan mau menghabiskan waktunya dengan mengulang-ulang kenangan di pikirannya seperti kaset rekaman yang mbulet.

MEMBUKA LEMBARAN BARU

Disini, bukan berarti kalian dituntut untuk menjadi manusia super yang nggak pernah menoleh ke masa lalu dan nggak pernah galau. Okay, galau itu manusiawi. Tapi “manusia beneran” tidak akan pernah galau lama-lama. Catet!

Hati yang dilukai itu pedih rasanya. Iya, semua juga tahu kok. Luka emosional itu juga butuh waktu untuk sembuh. Nggak bisa dengan sim salabim lalu hilang tak berbekas. Dikira sulap?! -_-

Tapi bagaimanapun juga, apa yang harus kita hindari adalah terus-menerus menyuburkan luka menjadi borok. Kita harus dan wajib untuk menghadapi kenangan-kenangan buruk dan berusaha mengendalikannya, bukan malah kenangan yang mengendalikan kita. Islam menekankan keseimbangan, termasuk emosi yang seimbang. Kita nggak bisa terus-terusan berduka kan? Kita berhak bahagia.

So what should I do now? 😦

Bagi yang muslim, yang pertama kali harus dilakukan pastinya ucap syukur “Alhamdulillah”. Nggak peduli seberapa parah luka kita, nggak peduli seberapa sering kita disakiti, pasti ada hikmah dibalik semua itu. Apapun ketidakadilan yang pernah menimpa kita, semuanya terjadi juga atas kehendak Allah. Tugas kita hanya mencari dan memahami apa maksud di balik semua ini. Right?

Nah, daripada kita komplain kepada takdir dan bertanya-tanya “Mengapa nasibku begini? 😦, seharusnya kita tanya ke diri kita sendiri. Kadang-kadang, hal-hal yang buruk diperlukan untuk mendidik kita menjadi dewasa. Gelas keramik dibentuk dengan proses yang panjang, menyakitkan  bahkan perlu dibakar dulu. Pasti ada alasan yang kompleks mengapa ketidakadilan sampai menimpa diri kita. Mungkin kejadian yang menyakitkan dulu adalah cara Allah untuk mengeluarkan orang-orang yang memang buruk bagi kehidupan kita nanti. Mungkin juga ini adalah tanda bagi kita untuk instrospeksi diri, untuk mengetahui seberapa jauh kita telah berbuat salah.

Lagipula, kita juga nggak sempurna kan? Mungkin kita juga pernah menyakiti perasaan orang lain, sengaja atau tidak? Kalau katanya Pak Ippho, lebih baik kita anggap kejadian buruk yang menimpa kita itu sebagai teguran, bukan ujian, sehingga kita terpacu untuk instrospeksi diri menjadi pribadi yang lebih baik :).

Alhamdulillah, akhirnya selesai juga ini tulisan, hehe.

Kesimpulannya, kita harus bisa mengubah situasi-situasi yang bisa membuat kita down menjadi alat untuk refleksi diri dan akhirnya membuat kita naik kelas menuju derajat manusia mulia. Semoga. Aamiin :).

imagined having

Advertisements
This entry was posted in Curhatan, Hearts, Purpose of Life. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s